Selasa, 29 Juni 2010

Marketing 1.0 vs Marketing 2.0 part 3

Ini dia yang jadi dasar dari metode marketing 1.0 dan 2.0 yaitu teknologi atau lebih tepatnya Revolusi Digital, dimana semua hal berubah dan beracuan pada internet . revolusi digital telah menempatkan keseluruhan perangkat kemampuan baru di tangan konsumen dan bisnis. Penjelasan ini saya dapatkan dari buku Manajemen Pemasaran, Philip Kotler. Dan saya bandingkan dengan penjelasan dari Pak Budiono Darsono karena terdapat banyak sekali ketepatan. Perhatikan apa yang dimiliki konsumen sekarang, tapi tidak dimiliki konsumen dulu:
Peningkatan besar kekuatan pembelian. Pembeli dewasa ini jaraknya hanya satu klik jauhnya dari atribut produk dan harga pesaing. Mereka bisa mendapatkan jawaban dari internet dalam satu masalah hanya dalam hitungan detik. Mereka tidak perlu berkendara ke toko, taman, menunggu dalam antrian, dan berdiskusi dengan tenaga penjual. Konsumen bahkan dapat menyebutkan harga yang ingin mereka bayar untuk sebuah kamar hotel, tiket penerbangan, atau hipotek, dan melihat apakah ada pemasok yang mau. Pembeli dari kalangan bisnis dapat menyelenggarakan satu pelanggan sebaliknya dimana penjual bersaing untuk merebut bisnis pembeli. Para pembeli dapat bergabung dengan pembeli lain untuk mengumpulkan pembelian mereka guna mendapatkan volume diskon yang lebih besar.
Lebih bervariasinya barang dan jasa yang tersedia. Dewasa ini orang hampir dapat memesan segala sesuatu melalui internet. Amazon.com mengiklankan dirinya sebagai toko buku terbesar di dunia, yang memiliki lebih dari 3 juta buku; tidak ada lagi toko buku fisik yang menandingi dia. Lagipula pembeli dapat memesan barang-barang ini dari mana saja di dunia. Kemudahan ini membantu orang-orang yang bermukim di negara-negara yang tawaran lokalnya sangat terbatas untuk mendapatkan penghematan besar. Itu juga berarti bahwa pembeli di negara-negara yang harga bukunya mahal dapat mengurangi biaya mereka dengan memesan di negara-negara yang harga bukunya lebih murah.
Praktisnya, banyak sekali informasi tentang segala sesuatu. Orang dapat membaca hampir segala surat kabar dalam bahasa mana saja di dunia. Mereka dapat mengakses secara online, ensiklopedia, kamus, informasi medis, pemeringkatan film, laporan konsumen, dan banyak sekali sumber informasi lainnya.
Kemudahan yang lebih besar dalam berinteraksi, melakukan pesanan, dan mendapatkan pesanan. Pembeli dewasa ini dapat melakukan pemesanan dari rumah, kantor, atau telepon mobil 24 jam sehari, 7 hari seminggu, dan pesanan akan diantar ke rumah atau kantor secepatnya.
Kemampuan untuk menbandingkan catatan tentang produk dan layanan. Pembeli dewasa ini dapat memasuki ruang obrol yang berpusat pada beberapa area minat bersama dan bertukar informasi dan pendapat.

Sabtu, 26 Juni 2010

Marketing 1.0 vs Marketing 2.0 part 2

Nah, udah pada tahu kan dasar dari metode marketing 1.0 dan 2.0, yang inti acuannya itu pada konsumen. Kini pengaplikasiannya pada realita, mari kita lihat iklan-iklan yang beredar di internet coba bandingkan antara iklan yang hanya diam kemudian kita baca dengan iklan yang mengajak kita harus interaktif dengannya mana yang lebih menarik? Tentu saja kita akan tertarik dengan iklan yang lain bentuknya, menarik, juga persuasive. Kini produsen telah melirik iklan yang berbasis 2.0 karena keefektivitasannya dalam menarik pembeli dan keefesiennannya dalam menggunakan biaya produksi iklan.
Ini merupakan hal yang menarik dimana iklan telah bermigrasi dari 1.0 ke 2.0 tidak menutup kemungkinan ke generasi yang berikutnya. Ini tidak lepas oleh dukungan internet yang berkembang semakin cepat dan semakin canggih, iklan yang berbasis 2.0 merupakan tolok ukur sebuah perusahaan dalam menerapkan suatu teknologi atas dasar efektive dan efesien. Suatu strategi yang mutakhir dan dapat diandalkan namun pasti tidak lepas dari kekurangan.
Kekurangan disini dapat dilihat dari gambar awal iklan ada kemunkinan menarik ada juga tidak. Kemungkinan menarik disini ditunjukkan dengan indikator bahwa konsumen akan langsung mengarahakn mouse ke arah iklan dan segera menjalankan ikalan tersebut. Yang tidak menarik adalah dimana iklan ini tidak terlihat sebagai iklan sehingga konsmen tidak paham dengan hal ini dan cenderung mengabaikannya.
Sifat iklan yang berbasis flash tingkat tinggi dan juga didukung dengan keterampilan si perancang iklan membuat iklan 2.0 ini terasa tidak memiliki kekurangan dan juga tidak membosankan. Terobosan baru yang seperti inilah yang diharapkan konsumen.
Bahasan yang selanjutnya akan mencoba menerangkan hal yang spesifik lagi dan lebih terperinci.

Kamis, 24 Juni 2010

Marketing 1.0 vs Marketing 2.0 part 1

Marketing 1.0 vs Marketing 2.0, apa sih, maksudnya? Yaitu metode pemasaran yang digunakan oleh perusahaan dalam memasarkan produk dengan fokus pendekatan kepada konsumen. Dalam kenyataannya konsumen selalu berubah-ubah seleranya, konsumen cenderung bertindak aktif dalam menentukan barang atau jasa yang akan dikonsumsi. Secara persuasive perusahaan harus menentukan metode yang harus digunakan untuk menjaring konsumen, perusahaan akan mencoba-coba banyak cara untuk menjalankan strategi tersebut.
Sesuai dengan prilaku konsumen perusahaan harus juga mengikuti jalan pikiran konsumen, konsumen yang selalu ingin tahu akan diimbangi perusahaan yang selalu membuat inovasi produk. Dari keingintahuan konsumen tersebut perusahaan dapat menentukan metode marketing-nya, melalui metode Marketing 1.0 atau Marketing 2.0.

Sebelum saya jelaskan mengenai metode tersebut ada baiknya saya jelaskan dari mana metode tersebut saya dapatkan, awalnya saya tidak paham cara perusahaan beriklan apakah dia melibatkan konsumen atau tidak sampai kemudian hari ada sebuah seminar di kampus yang melibatkan Bapak Budiono Darsono selaku pimpinan Detik.com sebagai pemberi materi, bapak ini menjelaskan panjang lebar awal mula terbentuknya Detik.com sampai sukses seperti sekarang dengan banyak iklan yang terpajang di halaman situs tersebut. Seperti diketahui bahwa memasang iklan di situs terkemuka tentunya tidak murah, itulah yang akan di utarakan Bapak Budi ini, yaitu cara beriklan di internet sehingga pelanggan tertarik dan ingin mencobanya.
Dari situlah metode pemasaran ini muncul, menurut pimpinan detik.com tersebut metode pemasaran khususnya beriklan terdapat 2 metode yaitu Marketing 1.0 dan Marketing 2.0, maksudnya, metode 1.0 yaitu metode yang tidak melibatkan konsumen untuk ikut aktif dalam iklan tersebut konsumen cendrung hanya mengamati jalannya iklan tanpa bisa mengutak-atik iklan. Sedangkan metode 2.0 mengajak konsumen untuk ikut aktif dalam iklan, menentukan sendiri jalannya iklan dan menilai sendiri iklan tersebut. Tentu saja disertai contoh-contoh iklan yang menggunakan metode 1.0 atau 2.0, iklan-iklan tersebut dapat dilihat dari situs-situs intrnet yang sudah terkemuka, missal detik.com. iklan tersebut baru akan berjalan apabila kita ikut berpartisipasi misak kita klik start untuk menyondol bola, dalam iklan sharp.

Sedikit saya modifikasi Marketing 1.0 dan Marketing 2.0 melalui ilmu marketing yang saya dapatkan dari dosen-dosen marketing saya di kampus. Mari kita lihat metode 1.0 yaitu dimana konsumen bertindak pasif terhadap iklan. Perlu diketahui bahwa kedua metode ini merupakan cara beriklan di internet. Disini konsumen hanya bisa melihat iklan tanpa bisa berbuat apa-apa, tidak ada menariknya juga unsur persuasifnya kurang, iklan ini disebut iklan model lama.
Kemudian metode 2.0 diman konsumen disuruh ikut aktif dalam jalannya iklan, setiap partnya bisa dijalankan oleh konsumen itu sendiri dan konsumen juga yang kan menilainya.
Pengembangan selanjutnya akan dibahan dalam bagian yang selanjutnya yang tentu akan lebih menarik.

Rabu, 23 Juni 2010

Marketing 1.0 vs Marketing 2.0

The Lucky Girl

Eeemmmm…… bingung mau nulis apa, tapi pengen banget nulis udah mikir tapi ide ga muncul2.
Yaudah aku putusin untuk cerita tentang kamu, siapa ya yang jadi kamu itu….
Ada deh, orangnya manis, periang, dan dia juga ngaku kalo dia tu ramah. Ga tau harus bilang apa tapi yang pasti dia orang yang kusayangi, ga bisa sih aku buktiin secara langsung tapi kalo ga percaya langsung aja ke tkp.
Sedikit aja aku cerita tentang dia ntar dia nya marah aku nya yang repot, simple aja sih dia kayak kebanyakan cewek pada umumnya, ga neko2, ya spesialnya cuma agak tomboy dari penampilan aja. Mungkin sedikit banyak aku belajar dari dia.
Orang yang asyik, nyenengin, dan selalu buat aku bahagia. Sebagian besar hidupku telah dirubah olehnya dari yang aku biasanya merokok jadi tidak, dari yang nilaiku kacau balau jadi brilliant, dari yang ga sadar diri jadi waras, dari yang jomblo jadi punya cewek. Hahahaha…
Bisa disebut the lucky girl for me lah dia tu, jadi inilah semester terbaik dalam pendidikanku selama ini inilah raihan tertinggi kedua setelah orang itu ini jadi momentum aku untuk bangkit menjadi yang terbaik dimata dia juga dimata orang lain.

Sabtu, 05 Juni 2010

Wrong Option

Kesalahan terbesar yang pernah kubuat selama ini ya ini, membuat keputusan yang keliru tentang sebuah pilihan antara melepas dan mengambil.
Dan akhirnya aku memilih untuk mengambil, mau apa lagi coba harapan udah didepan mata tinggal finall decision-nya aja kalau taunya kayak gini sih aku ga mau tapi apa boleh buat aku sudah tersesat di tengah hutan rimba yang aku tak tau arah mau kemana juga tak tentu. Coba awalnya kumu tu langsung aja bilang ga mau, jadi aku kan ga cepet2 mutusin Dia, pake acara coba2 pula kalo ga suka ya udah ga usah dipaksain dari pada kamu Cuma pura2 cinta sama aku itu lebih menyakitkan.
Sekarang aku bingung mau kayak mana 1 orang yang telah sakit hatinya ga mungkin bisa di sembuhin bener2 ngerasa bersalah aku sama Dia, bener2 ga enak hati aku sama Dia kayaknya aku udah jadi orang paling bodoh diseluruh dunia tebelit oleh harapan yang tak pasti. Argumenmu memang benar ini memang tak ada urusannya dengan mu, aku juga ga mau nyalahin kamu karena memang aku yang salah, aku yang bodoh mengambil keputusan yang seharusnya dipikirkan matang2.
Mau mu sekarang apa? Tetep aku kesel harusnya ungkapan itu kamu sampain dari lama2 dulu maka aku tak salah jalan kayak ini. Aku bingung dengan apa mau mu aku ga bisa baca pikiranmu, dan aku memang tergila2 sama kamu itu yang membuat aku buta, hilang akal, dan mengambil keputusan yang ekstrim. Dari dulu aku sudah merasa cocok sama kamu, aku sudah berjuang untuk coba lebih dalam kenal ama kamu kok kamu yang selalu menutup hati, kamu yang selalu menghindar. Kamu juga udah bilang sih kalo kamu tu udah berusaha untuk kenal aku, coba dong kamu kenal aku lebih dalam lagi, kenal akulebih jauh lagi.
Kok, aku ya yang jadi amat berharap ama cintamu, emang aku banget kalo udah kepingin sesuatu ya harus di penuhi, tapi kali ini lain aku serahkan ama kamubiar kamu senang.
Masalah ini masalahku jadi ga usah ikut campur, mentang2 kamu suka es campur.
Aku bakalan nyoba nyelesainnya sendiri walau berat akan ku coba, asal kamu tau ini postingan ku yang paling aneh dan yang jelas aku bingung dengan postingan ini, ini memang bener2 ungkapan hatiku ama kamu.